Kamis, 07 Juni 2012

UKURAN DINAMIKA POPULASI DAN KEPADATAN POPULASI

1.      Metode Sensus (Pencacahan Total)
Pencacahan total merupakan suatu cara menghitung secara langsung semua individu di suatu tempat yang dihuni spesies yang diselidiki. Metode ini biasanya digunakan pada berbagai spesies mamalia berukuran tubuh besar dan mudah tampak dalam habitatnya, misal gajah di semak belukar. Pencacahan total juga dapat dilakukan pada berbagai jenis hewan yang berukuran kecil, misal kelelawar dengan mencacah individu yang keluar masuk dari lubang tempat tinggalnya. Dapat juga dilakukan pada jenis hewan invertebrate sesil dengan ukuran tubuh yang tidak terlalu kecil, misalnya teritip (Balanus sp). Pengukuran Kelimpahan Absolut : Metoda-metoda Pencuplikan Metode pencuplikan (sampling method) merupakan metode yang menggunakan pencacahan, namun dilakukan terhadap individu-individu dari cuplikan-cuplikan (samples) yang masing-masing merupakan suatu proporsi kecil dari populasi yang diperiksa. Sensus adalah pencacahan atau kegiatan pengumpulan data atau informasi pada seluruh individu yang bertempat tinggal di suatu wilayah administratif tertentu. Kendala : dana, tenaga.
            Dalam Metode Sensus terbagi atat beberapa metode diantaranya :
A.    Metode Mark/Recapture
Metode    statistik    Mark/Recapture    dibagi    mejadi    2    kategori    :    Metode Mark/Recapture untuk populasi tertutup dan populasi terbuka. (Kursus ini kita akan lebih konsentrasi dalam metode untuk populasi terbuka).
Jika kita berencana menggunakan sampling jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa minggu, misal mirip dengan waktu yang digunakan untuk sensus Komodo) untuk mendapat perkiraan populasi, akan menjadi seperti menggunakan metode Mark/Recapture untuk populasi tertutup. Populasi tertutup adalah sebuah populasi satwa yang tertutup dari faktor tambahan (kelahiran dan imigrasi) dan faktor pengurangan (kematian dan emigrasi). Jadi populasi dianggap konstan selama waktu penelitian. Unsur pembatas populasi tertutup :
1.      Pembatas Geografis : Populasi tertutup oleh pembatas fisik sehingga satwa tidak berpindah keluar area dimana populasi tersebut terperangkap
2.      Pembatas Demografis : Tertutup dari faktor kelahiran, imigrasi, kematian dan emigrasi.
B.     Metode Lincoln-Petersen
Sejauh ini metode termudah untuk penaksiran ukuran populasi adalah Metode Lincoln-Petersen. Laplace tercatat dan dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan metode ini pada abad ke-16, dimana terdapat 2 hal yang umum digunakan yaitu pada penelitian ikan dan hidupan liar. Bagi para nelayan teknik ini dikenal sebagai “Metode Petersen” mengacu pada saran C.G.J.
Petersen tahun 1896. Semetara peneliti hidupan liar cenderung mengarah ke “Index Lincoln” mengacu pada penggunaannya oleh F.C. Lincoln dalam usahanya untuk menaksir kelimpahan burung air di amerika utara pada tahun 1930-an. Pengguna ketiga adalah C.H.N Jackson (1933) dalam studinya tentang lalat Tse-Tse di Afrika. Metode ini hanya membutuhkan 2 periode census, melibatkan inisial Penanda dari Individu (M) dimana m diperoleh dari n binatang yang ditangkap pada penangkapan kedua. Jika populasi tertutup (yaitu tidak adanya penambahan atau pengurangan seperti Imigrasi, Emigrasi, mortalitas, dll.) maka secara intuisi hal ini dapat diperkirakan bahwa pengacakan satwa tertandai dalam populasi (M/N) dapat ditaksir dengan proporsi dari satwa yang ditandai pada pengambilan sampel kedua yaitu :

Untuk alasan statistik, kita memodifikasi formula ini agar dapat mengurangi bias yang berhubungan dengan sampling dan penggunaan formula Petersen yang dimodifikasi (digabungkan dengan DG Chapman oleh Seber, 1982)



C.     Schnabel Estimator (k-sampel Closed-Pop’n model).
Schnabel 1938, Metode ini berkembang dari metode Lincoln-Petersen, menjadi rangkaian sampel-sampel, dimana terdapat sampel no 2,3,4,…, dst. Individu-individu tertangkap dalam masing-masing sampel merupakan individu yang diperiksa penandanya, lalu ditandai dan dilepaskan. Hanya penanda tipe single yang digunakan, karena kita hanya perlu membedakan 2 tipe dari individu, yaitu : Ditandai (ditangkap dalam satu atau lebih sampel utama) dan yang tidak ditandai (tidak pernah ditangkap sebelumnya). Dibawah ini adalah keterangan dari masing masing sampel t :
Ct = jumlah total dari individu-individu yang ditangkap dalam sampel t
Mt = jumlah individu-individu yang telah ditandai ketika ditangkap dalam sampel t
Rt = jumlah satwa yang ditandai dalam populasi, sebelum pengambilan sampel dilakukan.
Schnabel memperlakukan perkalian sampel-sampel sebagai seri dari sampel Lincoln-Petersen (L-P) dan didapatkan estimasi populasi sebagai rata-rata kasar (Weighted Average) dari Penaksiran L-P :

2.      Metode Sampling
Metode cuplikan (Sampling) Biasanya para peneliti harus puas dengan hanya menghitung proporsi kecil populasi dan hanya mempergunakan cuplikan (=”sampel”) ini untuk memperkirakan seluruh populasi.
Ada beberapa metode sampling yang biasa dipelajari, yaitu :
a)      Metode Plot (Berpetak) Suatu metode yang berbentuk segi empat atau persegi (kuadrat) ataupun lingkaran. Biasanya digunakan untuk sampling tumbuhan darat, hewan sessile (menetap) atau bergerak lambat seperti hewan tanah dan hewan yang meliang. Untuk sampling tumbuhan terdapat dua cara penerapan metode plot,yaitu :
·         Metode Petak Tunggal, yaitu metode yang hanya satu petak sampling yang mewakili suatu areal hutan. Biasanya luas minimum ini ditetapkan dengan dar penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah spesies lebih 5 % atau 10 %.
·         Metode Petak Ganda, yaitu pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan banyak petak contoh yang letaknya tersebar merata (sebaiknya secara sistematik). Ukuran berbeda-beda berdasarkan kelompok tumbuhan yang akan dianalisis. Perbandingan panjang dan lebar petak 2 : 1 merupakan alternatif terbaik daripada bentuk lain.
b)      Metode Transek (Jalur). Untuk vegetasi padang rumput penggunaan metode plot kurang praktis. Oleh karena itu digunakan metode transek, yang terdiri dari :
·         Line Intercept (Line Transect), yaitu suatu metode dengan cara menentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m atau 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Garis transek kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya 1 m, 5 m atau 10 m. Selanjutnya dilakukan pencatatan, penghitungan dan pengukuran panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut.
·         Belt Transect, yaitu suatu metode dengan cara mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi. Transek dibuat memotong garis topografi dari tepi laut ke pedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek 10 – 20 m dengan jarak antar transek 200 – 1000 m (tergantung intensitas yang dikehendaki). Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang digunakan 2 % dan hutan yang luasnya 1.000 Ha atau kurang intensitasnya 10%.
·         Strip Sensus, yaitu pada dasarnya sama dengan line transect hanya saja penerapannya ekologi vertebrata terestrial (daratan). Metode ini meliputi berjalan sepanjang garis transek dan mencatat spesies-spesies yang diamati di sepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks kepadatan).
c)      Metode Kuadran pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Ada dua macam metode yang umum digunakan :
·         Point-quarter, yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.
·         Wandering-quarter, yaitu suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal pengukuran. Dengan menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90°) yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan dan jarak satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran (Soegianto, 1994). Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif.
3.      Metode Tangkap dan Tangkap Lagi
Catch and release atau tangkap dan lepas adalah salah satu metode konservasi perikanan yang di terapkan di dalam olah raga memancing. Sejak diperkenalkan di Amerika tahun 1952 silam, cara ini telah menjadi pro dan kontra sampai sekarang. Tulisan ini dibuat untuk memberikan pengetahuan yang jernih dan memadai tentang catch and release, bukan “perdebatannya”   Catch and release adalah salah satu aplikasi dalam konservasi perikanan yang biasa dipakai para pemancing. Setelah ikan tertangkap, maka mata kail di lepas dari mulut ikan tanpa memindah keluar dari air dan akhirnya ikan di lepas kembali kea lam. Karena ikan dilepas kembali, maka dihindari ikan diganco, terlalu lama di udara, atau terluka selama proses pengambilan mata kail di mulut ikan.  
Sejarah Catch and Release Di Inggris, metode ini sudah di mulai sejak lama pada awal abad ini, tetapi sekarang sudah menjadi semacam konvensi atau undang-undang tidak tertulis, bahwa memancing, terutama ikan salmon dan trout selalu di lepas lagi ke alam. Di Amerika, metode tangkap lepas merupakan bagian dari manajemen di Negara bagian Michigan sejak tahun 1952.   Karena perekonomian disini lebih baik, maka olah raga memancing hanya untuk kesenangan, bukan untuk “MENGERUK” ikan sebanyak-banyaknya seperti di Negara berkembang. Metode ini sangat dipatuhi oleh mania di Amerika , karena kesinambungan ikan di sungai-sungai tetap ada, maka hobi memancing tetap ada dan terjaga.   Di Australia, metode ini berkembang di mulai sekitar tahun 1960an. Praktek tangkap dan lepas mulai di praktekkan secara luas sekitar awal tahun 1980an. Beberapa ikan yang mulai langka seperti Murray Cod, Australian Bass bahkan Marlin juga mulai menjadi target tangkap lepas bila terpancing.  
Di Irlandia, metode tangkap lepas sejak tahun 2003 mulai dilakukan dalam satu bagian konservasi untuk melepas lagi ikan salmon dan trout ke alam bila terpancing. Sejumlah ikan bahkan wajib di lepas lagi kea lam bila berhasil di pancing.   Cara ini bahkan menjadi undang-undang di Negara tersebut. Demikian juga di Kanada, beberapa jenis ikan memang harus di release lagi kealam bila tersangkut kail para pemancing di sana.   Metode tangkap lepas yang benar Ke efektifitasan metode ini adalah menghindari akses dari pertarungan dengan ikan dan waktu handling yang terlalu lama. Menghindari rusaknya sirip dan sisik ikan karena tersangkut jaring (bisa menderita jamur saat di lepas lagi kea lam, sehingga justru dapat menulari ikan-ikan yang lain di alam) dan menghindari kerusakan insang karena tekhnik handling yang salah. Penggunaan mata kail yang tanpa “BARB” merupakan aspek yang penting bila ingin menerapkan metode tangkap dan lepas pada ikan hasil pancingan kita. Kail tanpa barb mengurangi luka dan waktu penanganan menjadi lebih singkat. Sehingga menaikkan tingkat “Survive” ke lolosan ikan yang tertangkap. Ikan yang berhasil di tangkap dengan mata kail tanpa barb lebih mudah di lepas tanpa memindahkan ikan dari air dan mata kail lebih mudah di lepas dengan menggunakan tang.   Mata kail tanpa barb dapat dibeli khusus memang desainnya tanpa barb, atau dapat memodifikasi matail dengan barb, dengan cara menghilangkan barb dengan tang. Beberapa aspek yang harus di perhatikan dalam melaksanakan metode tangkap dan lepas yaitu:
·         Gunakan peralatan yang kuat untuk meminimalkan waktu bertarung dengan ikan.
·         Gunakan tang penjepit untuk melepaskan kail dari mulut ikan.
·         Gunakan mata kail tanpa barb supaya lebih cepat mata kail dari mulut ikan.
·         Biarkan ikan di air selama proses melepas mata kail di mulut ikan sebelum melepas kembali kealam.

Jika memang harus di pindah ke darat karena akan di foto atau memang kesulitan melepas mata kail sehingga di tarik ke darat, maka aspek yang perlu di perhatikan adalah:
1.      Hindari penggunaan jarring saat akan mendaratkan ikan, kecuali jala yang di peruntukkan khusus dalam metode tangkap dan lepas. Biasanya jaring yang berbahan lembut sehingga tidak merusak sisik ikan.
2.      Hindari meletakkan ikan di tempat-tempat yang keras atau di duga dapat merusak sisik ikan.
3.      Hindari memegang ikan dengan tangan yang memakai sarung tangan yang kasar.
4.      Hindari memegang bagian mulut, insang dan gigi saat memegang ikan.
5.      minimalkan waktu handling 20-30 detik, karena kalau kelamaan ikan dapat mati.

Tingkat survive dengan metode ini sangat bervariasi tergantung jenis ikannya. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tingkat survive ikan mencapai 95%-97% pada metode memancing dengan menggunakan umpan tiruan (lure).  Ikan yang tertangkap menggunakan umpan tiruan biasanya hanya tertancap secara bersih di sekitar mulut, sehingga meminimalkan luka sebelum dilepas kembali kealam. Sedangkan umpan alami mempunyai tingkat survive lebih rendah ( 70%-90%), karena beberapa umpan biasanya di telan sampai ke tenggorokan, bahkan sampai usus bagian dalam. Studi lain menunjukkan bahwa bahwa cara melepas mata kail yang menancap di dagu ikan (mulut bawah) dengan cara memotong senar disekitar mata kail juga mempunyai tingkat survive yang tinggi. Karena beberapa mata kail yang terbuat dari carbon dan nikel akan berkarat dan hilang tergerus air, apalagi bagi ikan yang hidup di laut.  
Catch and release di laut dalam Ternyata penelitian juga mendapat fakta bahwa metode ini sangat sulit dilakukan bagi pemancing laut dalam.   Hampir semua ikan di laut dalam biasanya terkena dampak perubahan tekanan bila terpancing. Bayangkan dari dasar laut dalam sampai permukaan terjadi perubahan tekanan tubuhnya secara mendadak. Tentu berakibat fatal bagi ikan-ikan dasar ini. Secara fisiologi, ikan tidak dapat secara cepat beradaftasi terhadapperubahan tekanan. Hal ini di sebut “Barotrauma”. Ikan yang terkena barotraumas biasanya gelembung renangnya membengkak, bola mata membesar, dan berakibat pada kematian. Jadi ikan dasar dari kedalaman 30-50 kaki yang terpancing bila di lepas kembali kelaut, maka akan berakibat ikan tersebut tidak dapat menyelam dan berenang, sehingga ikan ini akan langsung dihajar oleh ikan predator lainnya, seperti ikan hiu dan barracuda.   Jadi jika kondisi ikan seperti ini, sebaiknya dibawa pulang saja, tidak usah dilakukan C n R. Tangkap dan lepas hanya efektif bagi ikan-ikan pelagis ( ikan permukaan), seperti ikan Giant travelly, tuna, wahoo, tenggiri, layaran atau marlin dan lain-lain. Sedangkan ikan dasar seperti ikan kakap merah, kurisi, lencam, kerapu sebaiknya ddibawa pulang saja atau tergantung kondisi ikan.   C n R Metode tangkap dan lepas ( C n R) ternyata mengundang debat dari berbagai pihak. Karen dianggap tidak etis dan tidak bermoral karena membuat ikan stress hanya untuk bersenang-senang.   Setuju dengan C n R Beberapa orang yang setuju pada metode ini mempunyai alasan bahwa ikan yang terkena mata kail di bagian mulutnya hanya sugesti belaka, karena ikan juga sering kali memakan udang yang bagian ujungnya (rostrum) berduri dan sering bagian mulutnya terkena duri ini, demikian juga bila memakan ikan lainnya, akan terdapat duri di semua sirip-siripnya sehingga ikan terbiasa tertusuk benda tajam dan bukan suatu masalah. Ikan berlari menarik senar bukan karena merasa sakit, tetapi karena harus lari karena adanya perlawanan dari hentakam joran dan tarikan senar.  
C n R adalah suatu metode konservasi, hal ini dilakukan untuk mencegah over fishing/over harvest (panen berlebih) pada stok ikan dalam suatu pertumbuhan populasi manusia yang berlebihan. Tekanan perikanan komersial, naiknya effektifitas peralatan dan tekhnik memancing, undang-undang perikanan yang melemah, aksi pembiaran dari pemerintah berwenang dan terkait, penegakan hukan yang payah serta penurunan kualitas lingkungan.

4.      Pengukuran Nisbi
Karakteristik semua metode pengukuran kerapatan nisbi adalah bahwa semuanya tergantung pada pengumpulan cuplikan yang mewakili tetapan nisbi yang tidak diketahui hubungannya dengan besarnya populasi secara keseluruhan. Jadi yang diperoleh hanya petunjuk kelimpahan yang kurang begitu akurat. Sebenarnya banyak teknik perkiraan demikian itu, tetapan disini hanya beberapa saja yang akan disajikan ialah :
a)      Jebakan, Termasuk jebakan untuk tikus lapangan,jebakan cahaya untuk insekata yang terbang malam, jebakan sumuran yang dipasang pada permukaan tannah untuk menjebak kutu, atau hewan kecil lainnya, jebakan isap bagi insekta terbang, serta jaring plankton. Hewan yang tertanggap tergantug tidak hanya kerapatan populasi tetapi juga aktivitas hewan itu, kisaran gerakan, dan kemempuan si pemasang jebakan, sehingga sebenarnya hanya akan dieroleh gambaran kasar mengenai kelimpahan dengan teknik ini.
b)      Cacah butir tinja. Jikalau diketahui cacah butiran tinja dan rerata laju peninjaan akan diperoleh index besarnya populasi.
c)      Frekuensi vokalisasi. Beberapa kali ayam hutan berbunyi seletiap 15 menit dapat dipergunakan untuk index besarnya populasi ayam hutan
d)     Catatan kulit. Cacah hewan yang ditangkap oleh pemburu atau penjebak dapat dipergunakan untuk memperkirakan perubahan pada populasi mammalia catatan ada yang sampai 150 tahun yang lalu.
e)      Tangkapan per satuan usaha penangkapan ikan, misalnya cacah ikan yang ditangkap selama 100 jam dengan pukat harimau. Jika diperbandingkan akan dapat dipergunakan untuk memperkirakan kelimpahar ikan di suatu perairan
f)       Cacah artifak, misalnya butir tanah pada "rumah" kepiting, pohon untuk sarang tupai, bekas kepompong yang telah ditinggalkan insekta, dapat berguna untuk memperkirakan cacah hewan bersangkutan.
g)      Kuesioner dapat dikirimkan kepada penggemar berburu atau penjebak untuk mendapatkan perubahan populasi hewan yang jadi objeknya.
h)      Frekuensi. Persentase kuadrat yang dipergunakan dalam pengkajian suatu spesies khusus dapat berguna untuk memperkirakan kelimpahan nisbi.
i)        Kapasitas makan. Jumlah umpan yang diambil oleh tikus dapat dipergunakan untuk mengukur sebelum dan sesudah peracunan untuk memperoleh perubahan kerapatan.
j)        Penghitungan di jalanan. Cacah burung mangsa yang tampak waktu mengendarai mobil sejauh jarak yang telah dibakukan dapat dipergunakan sebagai index kelimpahan.
Hasil metode pengukuran kerapatan nisbi tersebut diatas perlu dipelajari dan di evaluasi secara hati-hati. Hasil tersebut lebih merupakan pelengkap pada teknik langsung. Perlu dipertimangkan 2 hal : pertama, bahwa informasi sensus yang akurat dan terperinci hanya dapat diperoleh untuk beberapa jenis hewan. Dalam kebanyakan kejadian harus puas dengan perkiraan kasar. Kedua, bahwa terdapat karya penelitian yang hanya berkenaan dengan hewan yang “mudah “ ialah burung dan mamalia


DAFTAR PUSTAKA


Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara : Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar